Surat untuk Dewi

Yth. Dewi

Terkait dengan pertanyaan yang telah kamu ajukan, ijinkan saya untuk menjawabnya.

Yang perlu Dewi sadari sekarang adalah, bisnis perusahaan kita sedikit berubah. Dimana saat ini, kita telah menjadi perusahaan Outsourcing di bidang Teknologi Informasi. Layanan yang bisa kita berikan adalah review, analisa dan juga presentasi. Pastinya secara produk, Dewi sedikit banyak sudah mengetahui.

Yang ingin saya sampaikan adalah, bisnis kita sekarang masih belum bisa (atau bahkan bukan) dianggap sebagai Core Business kita. Sehingga, inovasi dan usaha untuk mendapatkan sumber penghasilan baru adalah wajib hukumnya. Dalam hal ini, saya yang bertanggungjawab penuh. Setalah peluang diketahui, saya akan bagi tugas ke rekan lainnya. Termasuk dalam hal bisnis review yang sedang kita geluti sekarang.

Dengan berbagai pertimbangan, saya memilih Santi untuk menjadi coordinator program ini. Yang berarti, Santi memiliki wewenang untuk mengatur sistem kerjanya sendiri untuk memenuhi target yang telah saya berikan padanya. Dia juga berhak untuk mendelegasikan sesuatu ke semua rekan di Faber TANPA TERKECUALI. Dan khusus untuk Dewi, apapun yang kamu kerjakan, sudah PASTI saya telah mengetahui dan menyetujuinya. Yang berarti performance kamu di kantor ini tetap menjadi tanggung jawab saya.

Mengenai hubunganmu dengan Santi, saya tidak akan ikut campur. Saya sudah sangat percaya bahwa kamu sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan sendiri. Saya tidak menginginkan, Dewi menjadi kurang professional dalam bekerja hanya gara-gara ada masalah pribadi, yang ujung-ujungnya bisa merusak teamwork. Mengenai apa yang kamu rasakan, itu adalah perasaan yang harus segera atasi. Hal yang perlu saya tegaskan adalah, ini adalah pembelajaran untuk Dewi. Kita hidup dan bekerja akan bertemu dengan ribuan orang, yang masing masing punya karakter sendiri. Sebenarnya saya agak kecewa ketika Dewi mengeluarkan statement “tidak cocok”, bagi saya, itu adalah ungkapan yang terkesan (maaf) manja dan kurang professional.

Sebagai orang yang bertanggungjawab atasmu, saya ada beberapa masukan :
1. Jangan terjebak di perasaan Ujub (bangga terhadap diri sendiri/menganggap dirinya lebih), perasaan ini akan menimbulkan perasaan Sombong dan akhirnya takabbur. Naudzubillah min Dzalik. Selalulah HIJAU untuk terus belajar dari orang lain, bangun silaturahmi yang baik dan saling menghargai. JANGAN PERNAH SEKALI2 MERASA LEBIH BAIK DARI SIAPAPUN.
2. Terkait dengan sikap saling menghargai, yakinlah, bahwa setiap personel di kantor ini telah bekerja keras untuk membuat perusahaan ini bertahan dan terus berkembang. Hargailah sikap mereka DENGAN juga ikut bekerja keras. mengurangi hal2 yang bukan tanggungjawab utama kita sewaktu jam kerja.
3. Terkait dengan No 2, hindari aktivitas pribadi SEBELUM semua pekerjaannya terselesaikan. Hal ini termasuk (maaf) telefon pribadi, bisnis atau urusan pribadi lainnya.

Demikian yang bisa saya sampaikan, apa yang saya sampaikan disini hanyalah menjalankan kewajiban untuk saling mengingatkan dalam hal kebagikan.

Semoga semua menjadi lebih baik.

Yuswono Hadi-



Juga Layak Dibaca



Baca tulisan saya melalui email Anda

Tidak ingin ketinggalan Info Bisnis Paid Review terbaru? Atau informasi dan implementasi teknik SEO terkini? Silakan masukkan email Anda untuk mendapatkan tips trik komputer, blogging, dan Bisnis Internet


3 Comments

  • By syania, 18/09/2008 @ 07:29

    Ur the great MASTER , i’m proud of u :)

    [Reply]

  • By yuswono, 18/09/2008 @ 19:29

    @ syania

    Terimakasih…
    tinggal satu tugas saya, membuat Anda jauh lebih luar biasa…saya akan berusaha :)

    Keep good work !

    [Reply]

  • By ADAbisnis.com, 04/03/2010 @ 08:50

    Luar biasa mas… sikap manja dan ujub memang harus dikurangi bahkan dihilangkan dari diri kita. Good luck!

    [Reply]

Other Links to this Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment